Attitude does matter
WRITTEN BY -PM- ON Tuesday, July 23, 2013 {
0 comments }
Found this on Facebook and shared it. A beautiful story.
One day, when I was a freshman in high school,
I saw a kid from my class was walking home from school.
His name was Kyle.
It looked like he was carrying all of his books.
I thought to myself, "Why would anyone bring home all his books on a Friday?
He must really be a nerd."
I had quite a weekend planned (parties and a football game with my friends tomorrow afternoon), so I shrugged my shoulders and went on.
As I was walking, I saw a bunch of kids running toward him.
They ran at him, knocking all his books out of his arms and tripping him so he landed in the dirt.
His glasses went flying, and I saw them land in the grass about ten feet from him.
He looked up and I saw this terrible sadness in his eyes
My heart went out to him. So, I jogged over to him as he crawled around looking for his glasses, and I saw a tear in his eye.
As I handed him his glasses, I said, "Those guys are jerks. "
They really should get lives.
" He looked at me and said, "Hey thanks!"
There was a big smile on his face.
It was one of those smiles that showed real gratitude.
I helped him pick up his books, and asked him where he lived.
As it turned out, he lived near me, so I asked him why I had never seen him before.
He said he had gone to private school before now.
I would have never hung out with a private school kid before.
We talked all the way home, and I carried some of his books.
He turned out to be a pretty cool kid.
I asked him if he wanted to play a little football with my friends
He said yes.
We hung out all weekend and the more I got to know Kyle, the more I liked him, and my friends thought the same of him.
Monday morning came, and there was Kyle with the huge stack of books again.
I stopped him and said, "Boy, you are gonna really build some serious muscles with this pile of books everyday!
" He just laughed and handed me half the books.
Over the next four years, Kyle and I became best friends.
When we were seniors we began to think about college.
Kyle decided on Georgetown and I was going to Duke.
I knew that we would always be friends, that the miles would never be a problem.
He was going to be a doctor and I was going for business on a football scholarship.
Kyle was valedictorian of our class.
I teased him all the time about being a nerd.
He had to prepare a speech for graduation.
I was so glad it wasn't me having to get up there and speak
Graduation day, I saw Kyle.
He looked great.
He was one of those guys that really found himself during high school.
He filled out and actually looked good in glasses.
He had more dates than I had and all the girls loved him.
Boy, sometimes I was jealous!
Today was one of those days.
I could see that he was nervous about his speech.
So, I smacked him on the back and said, "Hey, big guy, you'll be great!"
He looked at me with one of those looks (the really grateful one) and smiled.
" Thanks," he said.
As he started his speech, he cleared his throat, and began
"Graduation is a time to thank those who helped you make it through those tough years.
Your parents, your teachers, your siblings, maybe a coach...but mostly your friends...
I am here to tell all of you that being a friend to someone is the best gift you can give them.
I am going to tell you a story."
I just looked at my friend with disbelief as he told the story of the first day we met.
He had planned to kill himself over the weekend.
He talked of how he had cleaned out his locker so his Mom wouldn't have to do it later and was carrying his stuff home.
He looked hard at me and gave me a little smile.
"Thankfully, I was saved.
My friend saved me from doing the unspeakable."
I heard the gasp go through the crowd as this handsome, popular boy told us all about his weakest moment.
I saw his Mom and dad looking at me and smiling that same grateful smile.
Not until that moment did I realize it's depth.
Never underestimate the power of your actions.
With one small gesture you can change a person's life.
For better or for worse.

Labels: cerpen, English
Cerpen : Sendiri
WRITTEN BY -PM- ON Thursday, August 16, 2012 {
4 comments }
 |
| It's dark. It's too dark. |
Aku berjalan melewati lorong-lorong gelap. Memang hanya gelap tak berujung yang dapat kulihat. Seingatku, aku tidak dapat ‘melihat’ saat itu. Melihat dengan jelas karena aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri. Namun kini aku dapat melihatnya. Tersenyum ke arahku. Dan memanggilku dengan suaranya yang merdu.
-Й-
“Ma, aku berangkat dulu ya!” seruku nyaring sambil menutup pintu perlahan.
“Ya, sayang. Hati-hati di jalan,” jawab Mama dari dapur.
Aku berjalan santai melewati jalanan yang sepi. Pukul 6 pagi. Memang jarak rumahku ke sekolah dekat sekali. Cukup dengan sepuluh menit berjalan. Dan berjalan adalah hobiku. Apalagi dengan memandangi matahari yang tersenyum manis dari ufuk timur itu. Membentuk lukisan alam yang indah dipadu dengan langit biru dan beberapa kapas putih awan yang melayang tinggi nun jauh di sana.
Hobiku yang lainnya mungkin adalah menyanyi. Bukan nyanyian yang se-sungguhnya melainkan senandung dalam hati. Aku tidak peduli dengan suaraku yang terlalu nyaring dan tidak cocok untuk menyanyi karena aku hanya menyanyi untuk diriku sendiri. Menyanyi dalam hati. Tentu saja.
Bukan tanpa alasan aku bersenandung riang pagi ini. Bukan senandung dalam hati itu. Senandung yang lain. Senandung nyanyian yang menurutku merdu dengan siulan burung dari dahan-dahan pohon yang rindang. Hanya karena satu hal yang menurutku penting. Aku akan menemui
nya. Apapun yang terjadi. Menemui kakak senior itu. Kak Noah.
Dengan satu tarikan nafas, aku berjalan melewati pintu pagar sekolahku. SMAN 1 Genteng. Cukup mudah untuk berjalan melewati pagar sekolah hingga ke kelas bagi pelajar golongan
'bukan anak populer' sepertiku. Semua tidak mengenalku. Mungkin karena aku selalu sendiri. Dan aku selalu tidak terlihat. Invisible.
Kesendirian itulah yang kadang menyiksaku. Aku tidak punya teman. Tapi mungkin, Rie satu-satunya temanku. Ia duduk sebangku denganku. Bahkan sejak SMP kami selalu duduk sebangku. Rie jugalah satu-satunya orang yang mau mendengarku bercerita tentang semuanya. Kecuali tentang satu hal. Ia tidak tahu kalau aku menyukai Kak Noah. Dan seperti biasa, ia selalu datang lima menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Hah.. hah.. sial..! Nyaris nih pintu gerbang ditutup! Hah... Untung aku kuat lari lagi. Hahaha. Hah.. hah.. Mao ! Hampir aja namaku tercantum di BK!” ujar Rie di sela nafasnya yang terputus-putus.
“Ampun dah. Besok pake alarm yang besar aja, sekalian seperti miliknya Spongebob! Hehe, ” jawabku asal.
“Jah, enggak bakal ada Em !” protes Rie sambil meletakkan tas dan duduk di bangkunya. Ah ya. Rie selalu memanggilku dengan sebutan ini.
“Huh, iya deh,” jawabku tak acuh.
Bel masuk pun berbunyi.
Read MoreLabels: ala Maura, cerpen, diary, PM, random
Kisah tujuh peri dan enam telur
WRITTEN BY -PM- ON Monday, April 16, 2012 {
5 comments }
Dahulu kala ada tujuh peri cantik yang hidup di negeri di atas bumi.
Suatu hari, ketujuh peri itu berjalan-jalan dibawah matahari yang terik. Para peri itu membawa tiket kereta api yang jumlahnya tujuh buah. Ya, mereka ingin naik kereta api bersama-sama dengan muggle lainnya. Sayangnya mereka tidak punya sihir seperti yang ada di dunia Harry Potter. Oleh karna itulah mereka tidak akan bisa dibedakan dari muggle biasa.
Di atas kereta para peri itu bercerita banyak hal. Dimulai dari abc hingga xyz dibahas bersama-sama. Mereka tertawa-tawa bersama. Mereka berisik. Muggle lainnya beberapa kali menegur mereka. Mereka terdiam. Beberapa saat kemudian, mereka tertawa-tawa lagi berisik.
Tiba di sebuah kota, mereka turun dari kereta di sebuah stasiun. Mereka membeli tiket lagi untuk pulang nanti. Selanjutnya mereka berjalan mengelilingi kota. Matahari masih terik. Matahari semakin terik. Mereka terus berjalan.
Sampai di taman, mereka berfoto-foto bersama. Tertawa-tawa lagi bersama. Gila-gilaan bersama. Lompat-lompat bersama. Timer camera digital sangat berguna sekali.
Seven from Heaven
Read MoreLabels: ala Maura, cerpen, diary, Dokumenter, photos, PM, random
Bulan Bintang Bumi dan Matahari
WRITTEN BY -PM- ON Thursday, March 08, 2012 {
0 comments }
Bulan itu sendirian dan
terlalu kecil untuk menunjukkan sinarnya. Bahkan ia tertutup gerhana bintang selama ini, meratapi semuanya dalam diam.
Bulan mulai menghilang, semakin tertutup kabut dan awan hitam. Bulan ingin menyinari bumi, tapi ia seakan tak mampu.
Bulan ingin semuanya berakhir, tapi ia tahu, ia takkan mampu pecah berkeping-keping sendiri.
Ia akan mati. Bulan kembali menyinari bumi.
Bulan ingin menghilang, ia ingin menghilang selamanya agar jutaan bintang mau menyinari bumi dengan bebas. Seandainya ia mau, ia dapat menghilang sendiri. Pergi menjauh. Tapi bagaimanapun juga, ia ingin tetap berada di samping bumi. Menyinarinya dengan sinarnya yang terang. Sayangnya, sinarnya itu tak mampu mengalahkan sinar bintang ataupun matahari. Ia kembali sedih.
Read MoreLabels: ala Maura, cerpen, cute, diary, pikachu, PM
Attitude does matter
WRITTEN BY -PM- ON Tuesday, July 23, 2013 {
0 comments }
Found this on Facebook and shared it. A beautiful story.
One day, when I was a freshman in high school,
I saw a kid from my class was walking home from school.
His name was Kyle.
It looked like he was carrying all of his books.
I thought to myself, "Why would anyone bring home all his books on a Friday?
He must really be a nerd."
I had quite a weekend planned (parties and a football game with my friends tomorrow afternoon), so I shrugged my shoulders and went on.
As I was walking, I saw a bunch of kids running toward him.
They ran at him, knocking all his books out of his arms and tripping him so he landed in the dirt.
His glasses went flying, and I saw them land in the grass about ten feet from him.
He looked up and I saw this terrible sadness in his eyes
My heart went out to him. So, I jogged over to him as he crawled around looking for his glasses, and I saw a tear in his eye.
As I handed him his glasses, I said, "Those guys are jerks. "
They really should get lives.
" He looked at me and said, "Hey thanks!"
There was a big smile on his face.
It was one of those smiles that showed real gratitude.
I helped him pick up his books, and asked him where he lived.
As it turned out, he lived near me, so I asked him why I had never seen him before.
He said he had gone to private school before now.
I would have never hung out with a private school kid before.
We talked all the way home, and I carried some of his books.
He turned out to be a pretty cool kid.
I asked him if he wanted to play a little football with my friends
He said yes.
We hung out all weekend and the more I got to know Kyle, the more I liked him, and my friends thought the same of him.
Monday morning came, and there was Kyle with the huge stack of books again.
I stopped him and said, "Boy, you are gonna really build some serious muscles with this pile of books everyday!
" He just laughed and handed me half the books.
Over the next four years, Kyle and I became best friends.
When we were seniors we began to think about college.
Kyle decided on Georgetown and I was going to Duke.
I knew that we would always be friends, that the miles would never be a problem.
He was going to be a doctor and I was going for business on a football scholarship.
Kyle was valedictorian of our class.
I teased him all the time about being a nerd.
He had to prepare a speech for graduation.
I was so glad it wasn't me having to get up there and speak
Graduation day, I saw Kyle.
He looked great.
He was one of those guys that really found himself during high school.
He filled out and actually looked good in glasses.
He had more dates than I had and all the girls loved him.
Boy, sometimes I was jealous!
Today was one of those days.
I could see that he was nervous about his speech.
So, I smacked him on the back and said, "Hey, big guy, you'll be great!"
He looked at me with one of those looks (the really grateful one) and smiled.
" Thanks," he said.
As he started his speech, he cleared his throat, and began
"Graduation is a time to thank those who helped you make it through those tough years.
Your parents, your teachers, your siblings, maybe a coach...but mostly your friends...
I am here to tell all of you that being a friend to someone is the best gift you can give them.
I am going to tell you a story."
I just looked at my friend with disbelief as he told the story of the first day we met.
He had planned to kill himself over the weekend.
He talked of how he had cleaned out his locker so his Mom wouldn't have to do it later and was carrying his stuff home.
He looked hard at me and gave me a little smile.
"Thankfully, I was saved.
My friend saved me from doing the unspeakable."
I heard the gasp go through the crowd as this handsome, popular boy told us all about his weakest moment.
I saw his Mom and dad looking at me and smiling that same grateful smile.
Not until that moment did I realize it's depth.
Never underestimate the power of your actions.
With one small gesture you can change a person's life.
For better or for worse.

Labels: cerpen, English
Cerpen : Sendiri
WRITTEN BY -PM- ON Thursday, August 16, 2012 {
4 comments }
 |
| It's dark. It's too dark. |
Aku berjalan melewati lorong-lorong gelap. Memang hanya gelap tak berujung yang dapat kulihat. Seingatku, aku tidak dapat ‘melihat’ saat itu. Melihat dengan jelas karena aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri. Namun kini aku dapat melihatnya. Tersenyum ke arahku. Dan memanggilku dengan suaranya yang merdu.
-Й-
“Ma, aku berangkat dulu ya!” seruku nyaring sambil menutup pintu perlahan.
“Ya, sayang. Hati-hati di jalan,” jawab Mama dari dapur.
Aku berjalan santai melewati jalanan yang sepi. Pukul 6 pagi. Memang jarak rumahku ke sekolah dekat sekali. Cukup dengan sepuluh menit berjalan. Dan berjalan adalah hobiku. Apalagi dengan memandangi matahari yang tersenyum manis dari ufuk timur itu. Membentuk lukisan alam yang indah dipadu dengan langit biru dan beberapa kapas putih awan yang melayang tinggi nun jauh di sana.
Hobiku yang lainnya mungkin adalah menyanyi. Bukan nyanyian yang se-sungguhnya melainkan senandung dalam hati. Aku tidak peduli dengan suaraku yang terlalu nyaring dan tidak cocok untuk menyanyi karena aku hanya menyanyi untuk diriku sendiri. Menyanyi dalam hati. Tentu saja.
Bukan tanpa alasan aku bersenandung riang pagi ini. Bukan senandung dalam hati itu. Senandung yang lain. Senandung nyanyian yang menurutku merdu dengan siulan burung dari dahan-dahan pohon yang rindang. Hanya karena satu hal yang menurutku penting. Aku akan menemui
nya. Apapun yang terjadi. Menemui kakak senior itu. Kak Noah.
Dengan satu tarikan nafas, aku berjalan melewati pintu pagar sekolahku. SMAN 1 Genteng. Cukup mudah untuk berjalan melewati pagar sekolah hingga ke kelas bagi pelajar golongan
'bukan anak populer' sepertiku. Semua tidak mengenalku. Mungkin karena aku selalu sendiri. Dan aku selalu tidak terlihat. Invisible.
Kesendirian itulah yang kadang menyiksaku. Aku tidak punya teman. Tapi mungkin, Rie satu-satunya temanku. Ia duduk sebangku denganku. Bahkan sejak SMP kami selalu duduk sebangku. Rie jugalah satu-satunya orang yang mau mendengarku bercerita tentang semuanya. Kecuali tentang satu hal. Ia tidak tahu kalau aku menyukai Kak Noah. Dan seperti biasa, ia selalu datang lima menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Hah.. hah.. sial..! Nyaris nih pintu gerbang ditutup! Hah... Untung aku kuat lari lagi. Hahaha. Hah.. hah.. Mao ! Hampir aja namaku tercantum di BK!” ujar Rie di sela nafasnya yang terputus-putus.
“Ampun dah. Besok pake alarm yang besar aja, sekalian seperti miliknya Spongebob! Hehe, ” jawabku asal.
“Jah, enggak bakal ada Em !” protes Rie sambil meletakkan tas dan duduk di bangkunya. Ah ya. Rie selalu memanggilku dengan sebutan ini.
“Huh, iya deh,” jawabku tak acuh.
Bel masuk pun berbunyi.
Read MoreLabels: ala Maura, cerpen, diary, PM, random
Kisah tujuh peri dan enam telur
WRITTEN BY -PM- ON Monday, April 16, 2012 {
5 comments }
Dahulu kala ada tujuh peri cantik yang hidup di negeri di atas bumi.
Suatu hari, ketujuh peri itu berjalan-jalan dibawah matahari yang terik. Para peri itu membawa tiket kereta api yang jumlahnya tujuh buah. Ya, mereka ingin naik kereta api bersama-sama dengan muggle lainnya. Sayangnya mereka tidak punya sihir seperti yang ada di dunia Harry Potter. Oleh karna itulah mereka tidak akan bisa dibedakan dari muggle biasa.
Di atas kereta para peri itu bercerita banyak hal. Dimulai dari abc hingga xyz dibahas bersama-sama. Mereka tertawa-tawa bersama. Mereka berisik. Muggle lainnya beberapa kali menegur mereka. Mereka terdiam. Beberapa saat kemudian, mereka tertawa-tawa lagi berisik.
Tiba di sebuah kota, mereka turun dari kereta di sebuah stasiun. Mereka membeli tiket lagi untuk pulang nanti. Selanjutnya mereka berjalan mengelilingi kota. Matahari masih terik. Matahari semakin terik. Mereka terus berjalan.
Sampai di taman, mereka berfoto-foto bersama. Tertawa-tawa lagi bersama. Gila-gilaan bersama. Lompat-lompat bersama. Timer camera digital sangat berguna sekali.
Seven from Heaven
Read MoreLabels: ala Maura, cerpen, diary, Dokumenter, photos, PM, random
Bulan Bintang Bumi dan Matahari
WRITTEN BY -PM- ON Thursday, March 08, 2012 {
0 comments }
Bulan itu sendirian dan
terlalu kecil untuk menunjukkan sinarnya. Bahkan ia tertutup gerhana bintang selama ini, meratapi semuanya dalam diam.
Bulan mulai menghilang, semakin tertutup kabut dan awan hitam. Bulan ingin menyinari bumi, tapi ia seakan tak mampu.
Bulan ingin semuanya berakhir, tapi ia tahu, ia takkan mampu pecah berkeping-keping sendiri.
Ia akan mati. Bulan kembali menyinari bumi.
Bulan ingin menghilang, ia ingin menghilang selamanya agar jutaan bintang mau menyinari bumi dengan bebas. Seandainya ia mau, ia dapat menghilang sendiri. Pergi menjauh. Tapi bagaimanapun juga, ia ingin tetap berada di samping bumi. Menyinarinya dengan sinarnya yang terang. Sayangnya, sinarnya itu tak mampu mengalahkan sinar bintang ataupun matahari. Ia kembali sedih.
Read MoreLabels: ala Maura, cerpen, cute, diary, pikachu, PM